Menikmati Sisi Lain Yogyakarta – 6 Tempat Wisata antimainstream Jogja

Hai, Travelers…

Saat ini mari bermain-main ke sisi lain Yogyakarta, entah kenapa semakin banyak tempat wisata di Jogja ini yang sengaja dibuat untuk menarik banyaknya wisata yang berkunjung. Saya pribadi sebagai orang Jogja asli sampai bingung lohh…hahahaaha

Di post sebelum-sebelumnya atau post beberapa tahun yang lalu *uppps lama banget aku sempat menceritakan beberapa tempat wisata di Jogja, yaitu rafting di sungai elo dan menikmati pantai dan sunset dari Parangndok. Nah kali ini aku akan berbagi tempat wisata yang tidak mainstream atau antimainstream, yang keren banget, yang tradisional banget, yang jawani banget, yang Jogja banget. So, bagi Travelers yang senang menikmati hal-hal berbau tradisi dan seni simak sampai selesai ya…

1. Menikmati Sunrise di Negeri Atas Awan Kediwung

Biasanya kalau mau menikmati sunrise yang berlatarkan awan dan langit biru biasanya paling enak di puncak Gunung. Tapi di Jogja punya tempat yang lebih asik, mungkin lebih keren dan tidak butuh effort banyak buat mendaki untuk menikmati diatas awan. Nama lokasinya adalah Kediwung, untuk bisa kesini Travelers disarankan berangkat pukul 4.00 pagi dari Jogja supaya sampai Kediwung diusahakan sebelum jam 6. Karena awannya akan cepat hilang ketika mendekati waktu 6.30-7.00 pagi. Bagaimana menuju kesini, caranya dengan menggunakan kendaraan pribadi, baik itu motor atau mobil. Pasang dalam google map anda Kediwung, Dlingo. Apabila merasa tersesat pastikan arah kendaraan anda menuju kebun buah Mangunan, karena lokasi ini masih beberapa kilometer dari kebun buah Mangunan. Untuk berfoto disetiap spot dikenakan biaya Rp.3.000,00-Rp.5.000,00 tidak ada tiket masuk hanya biaya parkir. Lalu bagaimana keindahannya??seperti biasa biarlah dokumentasi yang berbicara hehehe.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

2. Paralayang di Parangndok

Kalau di post sebelumnya aku menceritakan menikmati sunset selain di parangtritis, kali ini aku berkesempatan menikmati sunset dengan melakukan paralayang. Tentu saja untuk bisa paralayang dibutuhkan pendampingan dari para guide disana. Untuk biaya paralayang sendiri Rp.300.000,00 sudah include helm, safety shoes dan sunglasses. Selama 15-20 menit diputer-puter di langit rasanya seru banget…dan endingnya kita akan diturunkan landing di pantai parangtritis kalau guidenya lagi iseng kita diceburin di pantainya bukan mendarat di pasir hehehe..Untuk Travelers yang mau menikmati paralayang sebaiknya tiba disini diatas jam 3 sore atau jam 9 pagi, saat angin masih banyak sehingga memungkinkan untuk terbang, kalau angin sedang kurang atau terlalu kencang biasanya guide akan menghentikan penerbangan paralayang sementara waktu. Jadi apakah kamu berani untuk terbang dan bermimpi??

3. Tidak perlu jauh-jauh ke Malaysia untuk melihat proses pembuatan coklat secara live, di Cokelat Monggo kamu juga bisa loh

Mungkin di kota kamu pernah melihat di salah satu store yang menjual cokelat dengan merk Monggo? nah itu merupakan produk original asli produksi Jogja..Pemiliknya memang datang dari Swiss, dan dia awalnya bukanlah seorang ahli pembuat cokelat walapun negaranya merupakan penghasil cokelat. Hal inilah yang memacu beliau untuk membuat pabrik cokelat di Indonesia, kenapa? karena Indonesia termasuk produsen buah Kokoa terbanyak sayangnya tidak memiliki produksi cokelat lokal sehingga beliau mencoba menjadi pioneer disini. Nah, sebenarnya aku bisa aja cerita panjang lebar tentang sejarah cokelat Monggo ini, hanya saja jadi tidak bikin penasaran para Travelers dong kalau aku cerita, karena sesuatu yang misterius itu menarik kan?hehehe

Disini travelers juga bisa ikut cooking class tapi minimal 10 orang dengan biaya total Rp.200.000,00  atau ikut the experience taste of chocolate dengan membayar Rp.50.000,00 per orang tanpa minimum kuota. The experience taste ini kita disajikan dengan mencicipi buah kokoa itu seperti apa, lalu rasa biji mentahnya gimana, lalu rasa minuman coklat dan coklat sebenarnya itu gimana, penasaran kan??lumayan buat nambah pengetahuan.

4. Taman Edukasi Watu Lumbung 

tempat ini merupakan salah satu resort yang sedang berkembang di daerah Parangtritis. Resort ini identik dengan tema back to nature, dimana kita didekatkan kembali dengan alam. Untuk Travelers yang tidak punya waktu banyak dan ingin menikmati hal-hal yang bersifat nature dan tradisi dalam satu tempat bisa banget untuk menginap disini dan reservasi kegiatan yang kalian inginkan, seperti membatik, melukis, membuat puisi dan lain-lain. Tempat istirahatnya pun cukup unik, yakni bisa tidur di tenda atau dipan di rumah-rumah terbuka, suasana alamnya dapat, suasana desanya dapat, suasana jawanya dapat, suasana antiknya apalagi. oh ya sebagai info tempat ini tidak terbuka untuk umum, dalam artian tiba-tiba datang itu tidak bisa. Harus reservasi dulu, dan yang paling penting jangan lupa pesan nasi jagung kelapanya, spesial banget hanya ada disini loh. Jangan lupa memesan sego degan yang merupakan makanan khas dari Taman Edukasi Watu Lumbung, dan hanya disediakan apabila dipesan terlebih dahulu.

5. Bocor Alus Cafe

Mencari kafe unik, antimainstream? coba datang ke cafe ini, cafe ini didesain khusus dengan nuansa serba antik, liat-liat barang antik apa aja ada disini. Serasa hidup di tahun 70an eh 50an kali ya hihihi..Lagi-lagi nuansa jawa, menu makanan disini serba makanan tradisional jawa, aku favorite banget sama jus nangka, bikinannya pas dan enak, tapi pesannya tanpa gula, karena kalau dipikir-pikir nangka kan udah manis kalau tambah gula nanti manisnya overload kayak aku hahahahaa..just kidding.. Cafe ini letaknya disebelah selatan Jogja jadi bisa sekalian dalam satu perjalanan arah menemukan tempat dan cafe unik.

6. Belajar Membatik dan Membuat Gerabah

Penasaran caranya membatik bagaimana, tentunya membatik batik tulis bukan batik cap loh yaa..lokasinya masih di daerah selatan berdekatan dengan desa Kasongan, desa Gililoyo, Travelers bisa menikmati membatik sekaligus membuat gerabah. Untuk proses membatik pun kurang lebih membutuhkan waktu 3-4 jam untuk warna alam, dan membuat gerabah kurang lebih diwaktu yang sama..Dan semua hasil belajar ini bisa dibawa pulang sebagai bentuk cinderamata loh guys.. Penduduk desa Giriloyo juga memiliki showroom hasil dari pengrajin batik tulis dimana harganya jauh lebih murah daripada di toko souvenir atau toko batik yang ada di kota Yogyakarta. Penasaran? jangan lupa mampir yaa

 

sampai disini dulu ya Travelers see you in next blog….don’t forget to follow my instagram monica.indriani or for asking about my trip. thank you for visiting my blog

Tinggalkan komentar