helloooooow, welcome to my new story blog
seperti biasa teman-teman travellerku tersayang, maafkan keterlambatan posting perjalanan terakhir yang sudah dilakukan sejak akhir Oktober 2018 lalu padahal. Well, I will not make any excused my bet and I’m sorry.
Perjalanan ke Jepang pada saat autumn tahun lalu merupakan perjalanan yang merubah banyak hal dalam hidupku. Oleh karena itu pada judul blog aku kali ini bertajuk “what happen in Japan?”. Karena mungkin beberapa dari pembaca blog aku nanti penasaran dengan apa yang terjadi sampai aku membuat keputusan besar dalam hidupku. karena ada oknum yang beragumen bahwa ada sesuatu yang terjadi di Jepang. Lalu apakah itu? jadi sebenarnya ya tidak terjadi apapun, hanya perjalanan ini aku gunakan sebagai saat untuk merefleksikan perjalanan hidup yang sudah aku lalui beberapa tahun belakangan, apakah aku puas? apakah aku kecewa? lalu apakah aku mau bertahan dengan zona yang sekarang? atau aku mau berontak dan mencari zona baru? Maka cerita perjalanan ke Jepang saat autumn ini akan aku buat dalam satu bagian saja tidak seperti cerita yang lain yang terpisah berdasarkan waktu hari perjalanan. Semoga temen-temen traveller tidak akan merasa bosan ya..
Bermodalkan tiket promo free seat yang aku dapatkan dari Air Asia perjalanan aku ke Jepang ini bernilai 1,8juta tanpa bagasi, dan karena tahun 2016 aku sudah pernah ke Jepang dengan visa waiver jadi aku tidak perlu melakukan register visa jepang untuk kedua kalinya. Lalu bagaimana proses pembuatan visa waiver? aku rasa sudah banyak teman-teman blogger yang bercerita mengenai ini sehingga teman-teman bisa browsing lagi di mbah google, hehehehee. Perjalanan kali ini aku lakukan seorang diri dan memilih lokasi yang berbeda dengan yang pernah dilakukan 2 tahun yang lalu. Tahun ini aku berencana sekali untuk berkunjung ke Shirakawago, Hitachi Seasidepark dan Gunung Fuji, dan juga ada perjalanan dadakan yang diajak oleh teman aku yang memang tinggal di Jepang. Jadi dalam blog aku kali ini aku tidak akan menceritakan perjalanan di Kyoto maupun di Osaka.
Selama 7 hari di Jepang, aku hanya menginap di Tokyo, dan perjalanan ke luar kota semua transportasi yang aku gunakan menggunakan Shinkansen atau MRT. Transportasi memang mahal jatuhnya tetapi akomodasi aku murah dikarenakan aku menginap di apartemen teman aku Ocha, I’m happy deh. Oleh karena itu aku percayakan membeli JR pass melalui H*s-Travel. Setelah mendapatkan bukti booking, teman-teman travellers bisa menukarkan di bandara kedatangan. Jika di Narita, travelers bisa datang dibagian basement B2 disana akan ada counter khusus untuk penukaran JR pass. JR pass akan aktif saat pertama kali dicap, dan untuk keluar masuk stasiun silahkan masuk melalui jalur pintu dekat loket yang ada petugasnya. Jangan lupa juga, apabila travelers ada membeli voucher di k**ok jangan lupa untuk menukarkan juga sekalian di loker yang berada di bandara di B1.
| 23 Oktober 2018 |
| Arrival to Japan Tokyo (buy sim card and redeem JR pass) |
| Go to Bus Tokyo Access Narita Suttle (exit: Sts.Yaesu, Ginza, Oedo Onsen) |
| Ueno Park |
| lunch |
| shinjuku Gyoen |
| Meiji Jingu Gaien Park |
| Rainbow Bridge |
hari pertama kedatangan, seperti biasa jangan lupa untuk membeli simcard local dan redeem JR Pass kalau teman-teman membelinya melalui agen wisata. Nah dikarenakan hitung-hitung biaya lebih murah menggunakan bus suttle akhirnya aku memutuskan menggunakan bus dari bandara ke tokyo begitu juga nanti saat pulang. Biaya menggunakan bus ini sekitar 1000yen. Letak Bus ini berada di pintu exit lalu tunggulah diperhentian bus paling ujung terminal. Perjalanan akan ditempuh dalam waktu 1 jam, jangan sampai tertidur guys pemandangan selama perjalanan cukup mengesankan. Selanjutnya aku berusaha menghabiskan waktu sampai malam, dikarenakan teman aku Ocha baru selesai kerja malam hari. Tujuan pertama aku adalah Ueono Park, Shinjuku Gyoen dan Rainbow Bridge, terpaksa meiji jinggu gaien park aku cancel dikarenakan akhir oktober ke Tokyo lokasi ini berlum terasa hawa Autumnya, selain itu 3 lokasi tadi sangat berdekatan. Sepertinya Tuhan sangat mendukung perjalanan aku kali ini, karena begitu menginjakan kaki di Tokyo, hujan berhenti secara otomatis,, hwaaaa enaknya. Rainbow Bridge ini ternyata tidak selalu berwarna rainbow saat malam, seperti halnya saat aku tiba disana, aku berusaha menunggu sampai malam tiba ternyata eh ternyata jembatannya tidak rainbow tetapi hanya bercahayakan putih… Walaupun sedikit kecewa tetapi menikmati pemandangan dari Rainbow Bridge ini bikin yang hati gundah gulana makin terasa melow, bagaimana tidak pemandangan kota yang begitu jernih lalu tiupan angin sepoi-sepoi serta pemandagan Tokyo Sky Tree-nya saat malam sangat memukau. Memang tempat ini tidak hits, tapi bagi teman-teman yang tidak terlalu suka keramaian mungkin ini bisa menjadi alternative perjalanan kamu.
| 24 Oktober 2018 |
| Ameya-Yokocho (Ameyoko) |
| Asakusa |
| Koishikawa-Korakuen |
| Rikugien Park |
| Tokyo Sky Tree buy Ghibli |
Kalau orang-orang belanja dihari terakhir, untuk kali ini aku belanja di hari kedua, biar tidak lupa membeli oleh-oleh untuk keluarga dan titipan teman-teman takutnya karena perjalanan yang jauh jadi tidak sempat untuk membeli oleh-oleh. Ameya-Yokocho ini merupakan pasar yang terkenal untuk pembelian oleh-oleh yang berbentuk seperti makanan dan alat kosmetik, teman-teman yang mencari matcha bubuk, kitkat dengan berbagai varian rasa, green tea, nivea lip balm, atau kosmetik lainnya silahkan berkunjung kesini. Asakusa juga merupakan pusat oleh-oleh yang mungkin harganya sedikit lebih mahal, untuk pernak-pernik oleh-oleh disini banyak pilihannya, selain itu di Asakusa terdapat kuil untuk berdoa, aku sangat excited untuk masuk ke kuil ini dan mencoba mengambil peruntungan di dalam kuil. apabila hasilnya jelek hasil ramalan tersebut bisa teman-teman ikatkan di tempat yang disediakan, konon artinya supaya bad luck tersebut tertinggal saja di kuil dan tidak jadi datang mengunjungi. Selanjutnya aku juga berburu Gibli, sangat disayangkan sebenarnya pengen banget ke museum Gibli, karena demi kesana aku rela maraton nonton kartun yang di produksi oleh Gibli tapi tiket untuk masuk museum ini entah kenapa selalu sold out loh bahkan sejak 1 bulan sebelumnya… Akhirnya untuk bisa mendapatkan pernak-pernik Gibli lokasi terdekat di Tokyo berada di Tokyo Sky Tree. Mungkin kunjungan berikutnya bisa masuk museum ini dengan berbekal pembelian tiket jauh-jauh hari hehehehe.
| 25 Oktober 2018 |
| Fujiko Fujio (St. Shinjuku – odakyu-odawara train to St.Noborito 250 yen-walking 20-30 min or bus 210 yen |
| go to Shibuya (st. shinjuku-saokyo line 160 yen)2. St.tokyo marinouchi line -st.asakasa mitsuke-pindah jalur ginza 195 yen) kuliner : kinnotorikarra, ramen ichiran, uobei shibuya dogenzaka) |
| Shibuya(shopping, ice cream creamy, kuil konno hachimangu, nabershima shomo park |
Tahun lalu gagal untuk bisa datang kesini karena tiket untuk ke museum doraemon biasanya akan sold out 3-2 minggu sebelumnya. Jadi saat pertama kali menginjakan kaki di Tokyo, aku langsung pergi watson untuk membeli tiket museum doraemon. Museumnya keren dan wajib dateng sih tapi sayangnya dilarang memfoto dan memvideo. Jangan lupa untuk mencoba dorayakinya ya 🙂
selanjutnya ke shibuya buat shopping, disini travelers bisa cari apa saja dari tas anello, nike, adidas dan patung hachiko yang terkenal itu. oh,,,ya jangan lupa ya, untuk yang suka ice cream untuk mencicipi ice corn ‘creamy’, ini enaaaak banget sumpeeeh deh…
26 Oktober 2018 – stay in room
seharusnya hari ini rencana perjalanan ke Hitachi seaside park, tetapi suasana hati sedang mellow dan galau. Akhirnya cuma mengurung diri di kamar. Bagaimana perjalanan ke sana? Dari stasiun Uenk naik kereta express hitachi seharga Yen 3.820 ini di cover oleh JR pass sampai stasiun Katsuka, lalu lanjut bus no.2 dari stasiun Yen 400. Kalau tidak salah tiket masuk Hitachi Seaside Park Yen 410.
sore harinya, mencoba datang ke outlet Gibli lagi karena ada yang lupa.
semoga info ini berguna ya guys, jangan lupa cobain makan es cream nyaa dingin dingin enak.
| 27 Oktober 2018 |
| Doai Station |
| Kusatsu Onsen |
hari ini diajak ocha untuk bertemu temannya dulu semasa kuliah, dia berencana untuk mengunjungi Doai Station dan Kusatsu Onsen. Tidak banyak yang tahu tentang Doai Station, konon katanya tempat ini angker bahkan tidak ada penjaga stasiun, hanya kereta yang menurunkan atau menaikan penumpang saja. Bentuknya pun seperti terowongan bawah tanah yang untuk mencapai rel kereta api kita harus turun beratus-ratus tangga.
Bagaimana caranya menuju Doai Station, dari Tokyo-Station gunakan JR pass dan naik Joetsu Shinkansen Tanigawa for Ueno, sedangkan kalau dari Ueno gunakan kereta yang sama tapi yang dari Omiya yaa guys. Setelah itu berhenti di Jomokogen Station. Selanjutnya pindah jalur ke Minakami line gunakan kereta Tanigawadake Ropeway Eki dan berhenti di Doai Eki Mae, kurang lebih perjalanan yang ditempuh selama 2 jam 10 menit. Nah kalau Aku dan Ocha hanya melakukan perjalan sampai Jomokogen Station setelah itu kami bertemu dengan Shitaro, Takumi dan Takeshi yang akan memberikan kami tumpangan.
Akhir oktober di Tokyo suasana Autumn kurang terasa karena mungkin perubahan daun momiji di Tokyo lebih lambat. Tapi berbeda dengan di Gunma, selama perjalanan mobil dari Doai Station ke Kusatsu Onsen, aku terhibur dengan hamparan gunung-gunung yang menguning dan memerah. Arggghhh rasanya tidak mau pulang. Entah kenapa Jepang tempat yang sangat nyaman untukku selalu kembali. Perjalanan kami cukup panjang sekitar 3-4 jam. Selama perjalanan kami mengenalkan lagu-lagu Sheila on 7 loh ke Shitaro, Takumi dan Takeshi, dan tidak disangka mereka juga suka!! ahahahaa
lalu bagaimana caranya dari Doai station menuju Kusatsu Onsen dengan kereta? Dari Doai tunggu Joetsu Line yang menuju Minakami, lalu berhenti di stasiun Minakami. Setelah itu transfer perjalanan travelers menggunakan line yang sama tapi tujuannya ke Takasaki dan berhenti di Yagihara Station, lalu pindah jalur lagi ke Agatsuma Line tujuan Omae dan berhenti di Haneo Station. Lalu naik bus Okuwamichi for Kusatsu Onsen, sampai deh. Aku dan Ocha mencoba bermandikan onsen, tenang saja laki-laki dan perempuan dipisah ko, untuk travelers yang bertato tidak bisa disembarangan onsen. Hanya onsen-onsen tertentu yang mengijinkan. Selanjutnya kami menikmati pemandangan disekitar Onsen, makan malam lalu pulang ke Tokyo di hari yang sama.
| 28 Oktober 2018 |
| sekitaran Tokyo |
hari ini juga tidak kemana-mana guys, hanya menemani ocha makan malam bersama temannya. Kita makan barbequean.
| 29 Oktober 2018 |
| Shirakawa-Go |
untuk menuju shirakawa-go ada banyak cara dari berbagai blog yang aku baca. Berhubung akan PP Tokyo Shirakawa-go, aku memilih naik kereta yang di cover oleh JR Pass, dari stasiun Shinjuku ke stasiun Shinano-Omachi keberangkatan paling pagi pukul 07.30 dan diperkirakan sampai pada pukul 11.00, lanjut naik bus lokal ke Ogizawa. Disini menghabiskan waktu kurang lebi 3-4 jam dan mengusahakan untuk kembali sebelum jadwal bus terakhir.
Di Shirakawa-go ada bukit untuk memfoto kota ini dari atas, lalu kebetulan saat aku datang dapat melihat proses pembangunan rumah yang menjadi ciri khas di Shirakawa-Go. Suasana autumnnya disini juga sudah mulai kerasa loh guys, dan jangan lupa untuk mampir ke Ochiudo. Disini teman-teman bisa menikmati sup hangat kacang merah dengan bola-bola kacang (seperti bola ronde). Bebas untuk mengisi ulang bubur kacangnya, apabila membeli minuman hangat yang lain travelers juga akan diminta untuk memilih cangkir yang disuka. Pemilik restaurant ini akan memberikan buku kesan dan pesan dan yang pasti mereka bisa bahasa Indonesia loh hahahaha…
setelah puas berkeliling tempat dan mencari kehangatan aku akhirnya memutuskan untuk pulang dan kembali ke Tokyo.
| 30 Oktober 2018 |
| Chureito Pagoda, Kawaguchi Lake |
Hari terakhir di Jepang aku memutuskan untuk melihat gunung Fuji. Tips buat teman-teman travelers setibanya di Tokyo pastikan untuk destinasi yang membutuhkan kondisi yang cerah disesuaikan dengan ramalan cuaca yaaaa. Autumn memang sering hujan dan saat yang cerah aku dapatkan pas banget dihari terakhir.
tujuan pertama aku adalah Chureito Pagoda, dari Ueno Station gunakan Yamanote Line for Shinjuku dan berhenti di Shinjuku Station, lalu transfer ke Chuo Line dan berhenti di Otsuki Station. lalu pindah lagi menggunakan Fujikyuko Line dan berhenti di Shimoyoshida Station. Setelah ini perjalanan menuju Chureito berjalan kaki selama 30 menit, selama perjalanan kalian akan melihat jalanan yang dihiasi dengan logo-logo Gunung Fuji selama kalian melihat ini, horeee anda berada di jalan yang benar. heheheh
selanjutnya perjalananku menuju Kawaguchiko Lake, menggunakan Fujikyuko line dari Shimoyoshida Station. Usut punya usut aku berhenti di stasiun yang salah, tapi ketersesatan ini membawa berkah. Aku menemukan tempat antimainstream untuk melihat gunung fuji, letaknya di rooftop mall di Fujikyu-Highland station. Setelah puas berfoto-foto dan naik kereta berikutnya dan turun di kawaguchiko station.
tips lainnya, teman-teman bisa mengandalkan google map sebagai penunjuk jalan.
so berakhirlah sesi cerita perjalanan Autumn ke Jepang kali ini. Lalu apa yang didapat? sepulang dari sini aku mengambil keputusan terbesar dalam hidup. Tidak ada yang salah, dan aku tidak menyalahkan siapa pun. Bahkan saat dalam proses terasa berat dan terseok-seok bahkan terasa diinjak-injak yaaa aku terima-terimain, karena aku percaya aku melakukan semua ini untuk hal yang lebih baik, dan biarkan Tuhan yang bekerja membuktikan, karena apabila ini adalah jalan yang baik pasti Tuhan membukakan jalan untukku untuk terus bertahan dan melanjutkan hidup…
So guys, semoga bisa merasakan winter di Jepang atau Spring. Hahahaha asli gak bosen.
thank you for reading my blog.